Langsung ke konten

Dress code Desa Kitsuné: apa yang boleh dipakai dan aturan 21+

Desa Kitsuné menerapkan aturan smart casual dan menolak kalung rantai, pakaian kebesaran (baggy), sepatu bersol keras, boots, sandal jepit, pakaian olahraga, pakaian sobek atau potong-potongan, serta singlet berlogo bir. Pesta hanya untuk usia 21 ke atas dengan KTP/ID.

Diperbarui 12 Oktober 2026 · Baca 4 menit

Dress code di Desa Kitsuné adalah smart casual, dan daftar yang tidak diperbolehkan di sini lebih spesifik dibanding kebanyakan venue lain di Bali: kalung rantai, pakaian kebesaran (baggy), sepatu bersol keras, boots, sandal jepit, pakaian olahraga, pakaian sobek atau potong-potongan, serta singlet berlogo bir — semuanya ditolak. Pesta ini untuk tamu berusia 21 tahun ke atas, KTP/ID resmi dari pemerintah bisa diminta di pintu masuk, dan tamu yang terlihat mabuk akan ditolak masuk.

Pertama, kenali dulu apa itu Desa Kitsuné

Kebanyakan kesalahan soal dress code di sini bermula dari gambaran yang keliru tentang tempat ini. Desa Kitsuné bukan beach club dan tidak berada di pinggir pantai. Menurut deskripsi venue sendiri, ini adalah "a unique lifestyle village located in the heart of Canggu" — sebuah "oasis" taman seluas 5.000 m² (desa berarti village/kampung) yang diciptakan oleh Savaya Group bersama Maison Kitsuné, brand asal Prancis-Jepang.

Desa ini terdiri dari empat bagian:

  • Café Kitsuné, kafenya;
  • Ina Ré, restoran dengan menu Mediterania dan Amerika Selatan;
  • Maison Kitsuné, butiknya;
  • the Garden, tempat pesta berlangsung setiap Selasa dan Jumat, "rain or shine" (tetap jalan apa pun cuacanya).

Jadi gambaran yang tepat adalah pesta di taman di tengah kota, mengusung nama brand fashion — bukan sore hari di pasir pantai. Berpakaianlah sesuai gambaran itu, dan Anda sudah di jalur yang benar.

Smart casual, dan daftar yang ditolak

Venue ini meminta smart casual. Yang membedakan Desa Kitsuné dari venue lain adalah seberapa detail aturan penolakannya dijabarkan. Berikut yang tidak diperbolehkan:

  • kalung rantai;
  • pakaian kebesaran (baggy);
  • sepatu bersol keras;
  • boots;
  • sandal jepit;
  • pakaian olahraga;
  • pakaian sobek atau potong-potongan;
  • singlet berlogo bir.

Dua di antaranya layak dibaca dua kali. Sepatu bersol keras dan boots sama-sama masuk daftar, yang berarti menyingkirkan sebagian besar pilihan yang biasa dipakai orang untuk malam yang dressy di tempat lain — dan sandal jepit juga ditolak, jadi urusan alas kaki adalah yang perlu diselesaikan lebih dulu. Kalung rantai dan pakaian baggy jadi kejutan lainnya: gaya berbusana yang mengandalkan potongan longgar dan rantai yang terlihat jelas, persis itulah yang disebutkan dalam daftar ini.

Apa yang sebaiknya dipakai, secara praktis

Berikut ini bukan aturan resmi dari venue; ini hanya panduan agar tetap nyaman berada dalam batas-batas aturan di atas.

  • Sepatu: pilih yang bukan sandal jepit, bukan boots, dan bukan bersol keras. Jika ragu apakah sepasang sepatu termasuk bersol keras atau tidak, pilih opsi yang lebih lunak. Karena pesta berlangsung di luar ruangan dalam cuaca apa pun, sepatu yang tetap nyaman dipakai di rumput basah adalah pilihan yang masuk akal.
  • Potongan pakaian: pilih yang pas badan (tailored/fitted), bukan oversized. Jika suatu item terlihat baggy saat dipakai, sebaiknya tinggalkan saja.
  • Aksesori: tinggalkan kalung rantai di rumah. Jika ragu apakah sebuah perhiasan termasuk kategori itu, lebih baik tidak mengujinya langsung di pintu masuk.
  • Bahan dan kondisi pakaian: tidak ada yang sobek, tidak ada ujung yang frayed, tidak ada celana pendek atau lengan yang dipotong-potong.
  • Logo: tidak ada pakaian gym atau olahraga, dan tidak ada singlet dengan logo bir.
  • Cuaca: "rain or shine" berarti pesta tetap berlangsung meski hujan, jadi ada baiknya membawa outer tipis yang tetap nyaman dilihat.

Denim, yang ditolak di Savaya dan Zumana, tidak masuk daftar resmi Desa Kitsuné — tapi denim yang sobek tetap masuk kategori "sobek atau potong-potongan", dan jika malam itu Anda juga berencana pergi ke salah satu dari dua venue lainnya, sebaiknya tinggalkan jeans sama sekali.

Usia dan KTP/ID

Pesta ini untuk usia 21 tahun ke atas. KTP/ID resmi dari pemerintah bisa diminta, jadi bawalah: paspor atau dokumen foto resmi lainnya. Datang dalam keadaan mabuk juga bisa membuat Anda ditolak — tamu yang terlihat mabuk tidak akan diizinkan masuk.

Venue ini mempublikasikan aturan-aturan tersebut sebagai kebijakan pintu masuk untuk pesta. Mereka tidak mempublikasikan aturan terpisah untuk kunjungan siang hari ke kafe, butik, atau restoran, dan panduan ini tidak akan menebak-nebak soal itu.

Keputusan akhir ada di pintu masuk

Bahkan dengan outfit yang sempurna dan pendaftaran guestlist sekalipun, itu bukan jaminan masuk: pihak manajemen berhak menolak tamu atas pertimbangan mereka sendiri. Dress code adalah bagian yang bisa Anda kendalikan, jadi pastikan bagian ini benar. Soal masuk venue itu sendiri — guestlist gratis, batas waktu yang lebih awal untuk pria, dan malam-malam yang hanya berlaku dengan tiket — dibahas di panduan guestlist Desa Kitsuné.

Perbandingan tiga venue Savaya Group

Ketiganya sama-sama meminta smart casual dan menolak singlet berlogo bir, pakaian potong-potongan, serta pakaian olahraga, dan ketiganya menerapkan aturan 21+ dengan KTP/ID. Sandal jepit ditolak di sini dan di Zumana. Desa Kitsuné paling ketat soal sepatu dan aksesori, dengan sol keras, boots, kalung rantai, dan pakaian baggy disebutkan secara eksplisit. Savaya dan Zumana justru menyebutkan denim. Untuk perbandingan lengkap berdampingan, lihat perbandingan Savaya, Zumana dan Desa Kitsuné, dan untuk aturan usia di seluruh pulau, aturan usia klub di Bali.

Memesan meja

Jika Anda lebih memilih tempat duduk yang sudah reserved di taman dibanding berdiri, meja adalah satu-satunya cara untuk mendapatkannya; venue menetapkan minimum spend untuk setiap malamnya. Sampaikan tanggal dan jumlah rombongan Anda ke concierge — FirstBali akan melakukan pemesanan bersama venue, dan meja menjadi milik Anda begitu dikonfirmasi oleh venue.

Baca selanjutnya: guestlist Desa Kitsuné, dress code Zumana dan dress code Savaya.

Pertanyaan yang sering masuk

+Apa dress code di Desa Kitsuné?

Smart casual. Yang tidak diperbolehkan: kalung rantai, pakaian kebesaran (baggy), sepatu bersol keras, boots, sandal jepit, pakaian olahraga, pakaian sobek atau potong-potongan, serta singlet berlogo bir.

+Bolehkah memakai sandal jepit ke Desa Kitsuné?

Tidak. Sandal jepit termasuk dalam daftar yang tidak diperbolehkan di Desa Kitsuné, begitu juga boots dan sepatu bersol keras, jadi pilih alas kaki dengan cermat.

+Berapa batas usia di Desa Kitsuné?

Pesta ini untuk usia 21 tahun ke atas, dan KTP/ID resmi dari pemerintah bisa diminta di pintu masuk, jadi bawalah paspor atau dokumen foto resmi lainnya. Tamu yang terlihat mabuk akan ditolak.

+Apakah Desa Kitsuné adalah beach club?

Bukan. Desa Kitsuné adalah sebuah lifestyle village di tengah Canggu, taman seluas 5.000 m² dengan Café Kitsuné, restoran Ina Ré, dan butik Maison Kitsuné. Pestanya berlangsung di taman setiap Selasa dan Jumat.

+Bolehkah memakai jeans ke Desa Kitsuné?

Denim tidak termasuk dalam daftar resmi Desa Kitsuné, tetapi pakaian sobek atau potong-potongan termasuk, jadi jeans robek tetap tidak diperbolehkan. Savaya dan Zumana justru menolak denim secara langsung.

+Bisakah Desa Kitsuné menolak saya meski sudah masuk guestlist?

Bisa. Pihak manajemen berhak menolak tamu atas pertimbangan mereka sendiri, bahkan jika pendaftaran guestlist sudah disetujui — alasan lain untuk mengikuti dress code dengan cermat.

Mau kami yang urus?

Beri tahu concierge apa yang Anda butuhkan — meja, guestlist, vila, sopir. Kami jawab dalam 15 menit, 24/7.

Hubungi concierge

Baca juga